BEIRUT – Keamanan di wilayah perbatasan Lebanon kembali memanas setelah seorang tentara penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) asal Perancis dilaporkan tewas dalam sebuah penyergapan berdarah pada Sabtu (18/4/2026). Insiden ini terjadi di desa Ghanduriyah, di tengah masa gencatan senjata 10 hari yang seharusnya menjadi ruang diplomasi bagi Israel dan Lebanon untuk mengakhiri konflik enam minggu mereka.
Pemerintah Perancis dan otoritas UNIFIL memberikan sinyal kuat bahwa kelompok Hizbullah berada di balik serangan yang menewaskan Sersan Staf Florian Montorio tersebut.
BACA JUGA : Negosiasi AS-Iran Memasuki Babak Final, Donald Trump Klaim Kesepakatan Damai Segera Tercapai
Kronologi Penyergapan Jarak Dekat
Menteri Angkatan Bersenjata Perancis, Catherine Vautrin, memaparkan detail mencekam mengenai gugurnya Montorio. Unit militer tersebut sedang dalam misi menuju sebuah pos terdepan UNIFIL yang telah terisolasi selama beberapa hari akibat pertempuran sengit di wilayah tersebut.
Penyergapan terjadi secara tiba-tiba ketika kelompok bersenjata melakukan serangan menggunakan senjata ringan dari jarak yang sangat dekat.
“Sersan Staf Montorio terkena tembakan langsung. Meskipun rekan-rekannya berhasil mengevakuasi beliau di bawah rentetan tembakan, nyawanya tidak dapat tertolong,” jelas Vautrin sebagaimana dikutip dari AFP.
Selain Montorio, tiga personel militer Perancis lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan saat ini sedang mendapatkan perawatan medis intensif.
Kecaman Keras dari Emmanuel Macron
Presiden Perancis, Emmanuel Macron, segera memberikan pernyataan tegas melalui platform media sosial X. Ia menyatakan bahwa seluruh indikasi awal dan bukti di lapangan mengarah pada tanggung jawab Hizbullah, kelompok yang memiliki dukungan kuat dari Iran.
“Semuanya mengarah pada Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan ini,” tulis Macron. Beliau juga mendesak otoritas Lebanon untuk bertindak cepat dalam mengidentifikasi dan menangkap para pelaku penembakan tersebut.
Langkah diplomatik langsung diambil oleh Macron dengan menghubungi Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam. Macron menekankan bahwa pemerintah Lebanon memikul tanggung jawab penuh untuk menjamin keamanan pasukan internasional yang bertugas di bawah mandat PBB.
Penyelidikan PBB dan Risiko Kejahatan Perang
UNIFIL dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa pasukan mereka diserang saat sedang menjalankan misi kemanusiaan, yakni penyingkiran bahan peledak di wilayah desa Ghanduriyah. Penilaian awal UNIFIL menyimpulkan bahwa aktor non-negara, dalam hal ini diduga kuat elemen Hizbullah, adalah pelaku penyerangan.
Juru bicara UNIFIL menegaskan bahwa penyerangan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang tidak terlibat dalam pertempuran dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional. Saat ini, penyelidikan formal telah diluncurkan untuk mengungkap fakta-fakta lengkap di balik insiden tersebut.
Respons Pemerintah Lebanon
Menanggapi tekanan internasional, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Ia berjanji akan menyeret para pelaku ke pengadilan militer. Sejalan dengan itu, Perdana Menteri Nawaf Salam telah memerintahkan jajaran keamanan untuk melakukan investigasi menyeluruh guna meredam ketegangan diplomatik dengan Perancis.
Gugurnya Sersan Staf Florian Montorio menambah daftar panjang risiko yang dihadapi pasukan perdamaian di Lebanon selatan, di mana garis batas antara kelompok bersenjata dan wilayah sipil sering kali menjadi zona pertempuran yang tidak terduga. Tragedi ini kini mengancam keberlangsungan negosiasi damai yang sedang diupayakan oleh komunitas internasional.
