Republik Islam Iran memperluas dimensi ancaman maritimnya dengan memberikan peringatan keras bahwa disrupsi pelayaran global tidak akan terbatas pada Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa seluruh jalur nadi perdagangan internasional di kawasan Timur Tengah berada dalam jangkauan strategis mereka jika Amerika Serikat dan Israel terus meningkatkan intensitas serangan militer.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Ali Akbar Velayati, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, sebagaimana dilansir oleh Al Jazeera pada Senin, 6 April 2026. Velayati menyoroti bahwa setiap kesalahan taktis dari pihak Washington maupun Tel Aviv akan berdampak katastropik terhadap arus energi dunia.
BACA JUGA : Spekulasi Operasi Eliminasi Pilot: Amerika Serikat Diduga Targetkan Personel Sendiri di Wilayah Iran
Selat Bab el-Mandeb: Titik Tekan Strategis Baru
Dalam pernyataannya, Velayati mengungkapkan bahwa komando gabungan kelompok perlawanan regional kini menempatkan Selat Bab el-Mandeb pada tingkat kepentingan strategis yang setara dengan Selat Hormuz. Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap ultimatum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengancam akan “melepaskan neraka” terhadap Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali sebelum batas waktu Selasa, 7 April 2026.
Velayati menilai bahwa meskipun Amerika Serikat memiliki catatan sejarah interaksi dengan Iran, Gedung Putih dianggap belum sepenuhnya memahami “geografi kekuatan” yang telah dibangun Iran bersama sekutu regionalnya. Dengan mengancam Bab el-Mandeb, Iran secara efektif menunjukkan kemampuan mereka untuk memutus akses menuju Terusan Suez, yang merupakan jalur penghubung vital antara Asia dan Eropa.
Peran Kelompok Houthi dan Stabilitas Laut Merah
Ancaman ini diperkuat oleh pernyataan dari kelompok Houthi di Yaman yang memiliki aliansi erat dengan Teheran. Kelompok tersebut menyatakan kesiapan penuh untuk melakukan aksi militer di lepas pantai Yaman sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.
Signifikansi Selat Bab el-Mandeb meliputi:
- Titik Sempit (Chokepoint) Global: Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan merupakan akses utama bagi kapal-kapal tanker menuju Terusan Suez.
- Instrumen Perang Ekonomi: Gangguan di jalur ini akan memaksa kapal-kapal kargo melakukan rute memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika, yang secara otomatis meningkatkan biaya logistik dan inflasi global.
- Rekam Jejak Konflik: Sejarah serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial selama konflik Gaza sebelumnya telah membuktikan kerentanan jalur ini terhadap serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal antikapal.
Implikasi Terhadap Keamanan Energi Internasional
Peringatan terbaru dari Teheran ini meningkatkan kekhawatiran global akan terjadinya “perang jalur pelayaran” berskala besar. Jika kedua selat strategis—Hormuz dan Bab el-Mandeb—mengalami blokade secara simultan, dunia diprediksi akan menghadapi krisis pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para analis geopolitik memandang manuver Iran ini sebagai upaya untuk mendiversifikasi instrumen penekan mereka terhadap pemerintahan Donald Trump. Dengan mengancam dua titik sumbat maritim paling krusial di dunia, Iran berusaha mengirimkan pesan bahwa agresi militer terhadap kedaulatan mereka akan dibayar dengan kelumpuhan total ekonomi global. Situasi kini berada pada titik didih tertinggi, di mana komunitas internasional menanti apakah diplomasi menit terakhir dapat mencegah pecahnya konflik terbuka di perairan Timur Tengah pada tahun 2026 ini.
