TEHERAN — Majelis Ahli secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) baru Republik Islam Iran, menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Pengumuman ini disampaikan melalui stasiun televisi nasional di tengah situasi keamanan yang sangat kritis. Meskipun kantor Sekretariat Majelis Ahli sempat menjadi sasaran serangan bom yang menewaskan sejumlah staf dan personel keamanan, lembaga beranggotakan 88 ulama senior tersebut menegaskan bahwa proses transisi kepemimpinan tetap berjalan sesuai konstitusi demi menjaga stabilitas negara di masa perang.
BACA JUGA : Perubahan Taktis: AS Kerahkan Sistem Anti-Drone Merops yang Teruji di Ukraina untuk Hadapi Iran
Legitimasi dan Dukungan Militer Elit
Penunjukan Mojtaba Khamenei segera mendapatkan dukungan penuh dari kekuatan militer paling berpengaruh di negara tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Melalui kantor berita Tasnim, IRGC memberikan testimoni terhadap kapasitas Mojtaba dengan rincian sebagai berikut:
- Kapasitas Intelektual: Ia digambarkan sebagai ahli hukum yang mumpuni serta pemikir muda yang memiliki pemahaman mendalam terhadap isu sosial-politik global.
- Loyalitas Total: IRGC menyatakan ketaatan mutlak dan kesiapan untuk berkorban dalam menjalankan perintah Mojtaba, yang kini memegang otoritas tertinggi atas angkatan bersenjata.
Karakteristik Kepemimpinan: Strategi di Balik Layar
Berbeda dengan profil pemimpin pada umumnya, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup. Selama puluhan tahun, ia menerapkan strategi “kekuatan di balik jubah” dengan karakteristik:
- Minim Paparan Publik: Ia tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, tidak pernah memberikan pidato publik, maupun melakukan wawancara dengan media massa.
- Peran Penjaga Gerbang: Informasi diplomatik yang sempat bocor melalui WikiLeaks mengungkap bahwa Mojtaba merupakan sosok “penjaga gerbang” utama menuju ayahnya, menjadikannya figur sentral dalam pengambilan keputusan strategis rezim selama bertahun-tahun.
- Reputasi Internasional: Associated Press mencatatnya sebagai figur yang dianggap tangguh dan cakap di dalam lingkaran kekuasaan Iran, meskipun citranya di mata publik tetap misterius.
Kontroversi Ideologis: Antara Meritokrasi dan Garis Keturunan
Terpilihnya Mojtaba memicu perdebatan ideologis yang signifikan di internal Republik Islam. Mengingat revolusi 1979 berasaskan semangat anti-monarki, prinsip dasar pemilihan Pemimpin Tertinggi seharusnya bersandar pada kedudukan religius dan rekam jejak, bukan suksesi keturunan.
Sejarah mencatat bahwa dua tahun lalu, anggota Majelis Ahli sempat mengklaim bahwa Ali Khamenei menolak gagasan anaknya sebagai kandidat penerus. Namun, eskalasi perang dan hilangnya sejumlah pejabat tinggi serta komandan militer dalam serangan udara baru-baru ini tampaknya telah mengubah kalkulasi politik Majelis Ahli untuk memilih figur yang dianggap paling mampu menjamin kontinuitas rezim di tengah krisis.
Latar Belakang Pendidikan dan Keluarga
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan pendidikan agama dan politik. Pendidikan menengahnya diselesaikan di Sekolah Alavi, Teheran, sebuah institusi yang dikenal melahirkan banyak tokoh penting dalam struktur kekuasaan Republik Islam.
Dengan posisi barunya, Mojtaba kini menghadapi tantangan ganda: membuktikan legitimasi religiusnya di hadapan para ulama senior serta menavigasi Iran keluar dari perang terbuka dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel.
