Keresahan Arsip Film Nasional di JAFF ke-20: Ifa Isfansyah Soroti Hilangnya Jejak Sejarah Sinema

Yogyakarta – Jogja-NETPAC Film Festival (JAFF) memasuki usia ke-20, namun perayaan ini diiringi oleh keresahan mendalam mengenai kondisi arsip film di Indonesia. Dalam pembacaan manifesto pada pembukaan festival, Festival Director JAFF, Ifa Isfansyah, menyoroti pekerjaan rumah besar yang belum tuntas terkait pelestarian arsip film nasional.

Baca Juga : Struktur Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi Ambles Akibat Longsor, Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan

Ifa Isfansyah menggunakan pengalaman JAFF sendiri sebagai ilustrasi ironis. “Dua puluh tahun lalu, edisi pertama JAFF kami membuka dengan film Opera Jawa. Ironisnya, di usia festival yang sudah dewasa ini, kami tidak lagi memiliki akses ke materi film tersebut,” ujar Ifa.

Film Sebagai Artefak Sejarah

Ifa menegaskan bahwa sistem arsip yang mumpuni sangat fundamental karena arsip film memberikan kesempatan bagi generasi penerus untuk meninjau kembali karya-karya sinema yang pernah berjaya pada masanya.

Menurutnya, film bukan sekadar produk industri, melainkan juga artefak dan benda bersejarah yang merekam suara, kegelisahan, dan cerminan budaya dari generasi tertentu.

“Kita bangga dengan pencapaian film Indonesia, jutaan penonton, festival besar, pasar film baru, talenta muda terus muncul, tapi semua tidak ada artinya kalau di masa depan kita tidak bisa menjamin karya ini bisa ditonton anak cucu kita,” tegas Ifa. “Apa gunanya film ditonton jutaan jika 10 tahun lagi dia hilang tanpa jejak.”

Ia memperingatkan bahwa tanpa adanya strategi nasional yang konkret untuk arsip film, setiap tahun akan ada bagian dari sejarah bangsa yang hilang. Kehilangan ini, katanya, bukan disebabkan oleh pencurian atau perusakan, melainkan karena kelalaian dan ketidakpedulian kolektif untuk menyimpan dan melestarikan.


Respons Pemerintah dan Tantangan Kolaborasi

Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif, Doni Setiawan, memberikan tanggapan positif terhadap masukan dari JAFF. Ia mengakui pentingnya arsip film sebagai kekayaan intelektual dan sejarah bangsa yang harus dijaga.

“Tadi disampaikan untuk mendapatkan film 20 tahun yang lalu saja harus ke Prancis, artinya ini jadi perhatian kita semua. Film itu tidak cuma produksi tapi juga kekayaan yang harus kita jaga,” ujar Doni, menggarisbawahi urgensi pembenahan sistem arsip di dalam negeri.

Doni menyadari bahwa pelestarian arsip film menghadapi tantangan yang kompleks, mengingat materi film rentan rusak dan membutuhkan penanganan khusus. “Ini bukan hal yang mudah, film gampang rusak, dan perlu perhatian bersama agar film ini tetap lestari dan bisa ditonton kemudian hari,” katanya.

Menyadari bahwa penanganan arsip film membutuhkan kompetensi dan kewenangan lintas sektor, Doni menyatakan perlunya komunikasi dan kolaborasi dengan kementerian serta lembaga lain. “Nanti kami kolaborasi dengan kementerian lain, Kementerian Kebudayaan dan segala macam, termasuk mungkin dengan Badan Arsip Nasional, bagaimana kemudian film-film ini dapat lestari dan dijaga,” pungkas Doni, menjanjikan langkah strategis untuk menyelamatkan warisan sinema Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *