Eskalasi konflik bersenjata yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara drastis. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan pusat komando Teheran tidak hanya melumpuhkan infrastruktur militer, tetapi juga menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta jajaran pejabat tinggi lainnya. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan aset militer AS di Negara Teluk, hingga puncaknya melakukan pemblokiran terhadap Selat Hormuz yang mengancam stabilitas energi global.
Muncul pertanyaan krusial mengenai momentum serangan ini: mengapa koalisi AS-Israel memilih saat ini untuk melancarkan agresi skala penuh setelah bertahun-tahun terjebak dalam perang bayangan?
BACA JUGA : Ledakan Mengguncang Teheran di Tengah Peringatan Hari Quds: Satu Korban Jiwa Dikonfirmasi
Melemahnya Struktur “Axis of Resistance”
Analisis utama menunjukkan bahwa momentum ini dipilih karena sedang terjadi pelemahan signifikan pada jaringan proksi Iran di kawasan tersebut. Berdasarkan pengamatan Antonius Tomy Trinugroho, Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas, proksi-proksi Teheran saat ini berada dalam titik terendah mereka:
- Lumpuhnya Hamas: Setelah konflik berkepanjangan di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023, kapasitas militer dan logistik Hamas dinilai telah terkuras habis, sehingga tidak lagi mampu memberikan tekanan berarti dari arah selatan Israel.
- Instabilitas Hizbullah: Meskipun masih memberikan perlawanan pasca-wafatnya Khamenei, Hizbullah di Lebanon menghadapi kendala internal dan tekanan militer yang membuat mereka sulit melakukan mobilisasi perang skala penuh melawan Israel.
- Inaktivitas Houthi: Kelompok Houthi di Yaman, meski masih memiliki kapabilitas tempur, dinilai belum melakukan pergerakan yang cukup masif untuk mengubah konformasi tempur di lapangan saat serangan awal dilancarkan.
Perubahan Rezim di Suriah dan Putusnya Jalur Logistik
Salah satu faktor paling determinan yang memicu keberanian AS-Israel adalah jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah. Suriah selama puluhan tahun merupakan jembatan darat krusial bagi pengiriman pasokan militer dari Teheran menuju Hizbullah di Lebanon.
Kehadiran presiden baru Suriah, Ahmed al-Sharaa, menandai pergeseran haluan politik Damaskus yang kini cenderung mendekat ke Washington. Perubahan aliansi ini secara otomatis menutup koridor bantuan militer Iran. Tanpa perlindungan dan jalur pasokan melalui Suriah, posisi Iran menjadi terisolasi secara geografis, memberikan celah bagi AS dan Israel untuk melancarkan serangan langsung tanpa kekhawatiran akan adanya serangan balik yang terkoordinasi secara efektif dari perbatasan utara.
Kalkulasi Politik Domestik dan Global
Kondisi internal Iran yang sedang dalam masa transisi kekuasaan setelah kehilangan pemimpin tertinggi menciptakan vakum komando yang dimanfaatkan oleh intelijen koalisi. Di sisi lain, tekanan global akibat pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran justru dijadikan legitimasi oleh AS untuk mengeskalasi kehadiran militer mereka dengan dalih menjaga kebebasan navigasi internasional dan keamanan pasokan energi dunia.
Secara taktis, serangan “sekarang” dipandang sebagai upaya penyelesaian masalah secara tuntas (final solution) terhadap program nuklir dan pengaruh regional Iran, saat negara tersebut berada dalam posisi paling rentan dalam satu dekade terakhir.
