Pemerintah Iran meluncurkan serangan balik diplomatik terhadap narasi yang digulirkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai adanya keretakan besar di dalam struktur kepemimpinan Teheran. Di tengah upaya Washington untuk menekan stabilitas domestik Iran, para pejabat tinggi di Teheran justru menunjukkan front persatuan yang solid.
Sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera pada Kamis (23/4/2026), eselon tertinggi pemerintahan Iran secara serempak menegaskan bahwa upaya adu domba dari pihak luar tidak akan berhasil menggoyahkan integrasi nasional mereka.
BACA JUGA : Anomali Harga Energi: Mengapa Bensin di Amerika Serikat Tetap Lebih Murah di Tengah Krisis Global?
Front Persatuan Pejabat Tinggi Iran
Tudingan Trump mengenai perpecahan kepemimpinan segera ditanggapi secara kolektif oleh para pembuat kebijakan utama Iran. Aksi koordinasi ini melibatkan tiga pilar kekuasaan: eksekutif, legislatif, dan keamanan.
- Presiden Masoud Pezeshkian: Menegaskan bahwa identitas nasional melampaui perbedaan politik.
- Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf: Bersama Presiden, ia menekankan ketaatan mutlak pada garis kepemimpinan tertinggi.
- Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi: Secara spesifik mematahkan isu adanya gesekan antara kekuatan militer (Garda Revolusi) dengan kepemimpinan politik sipil.
Melalui platform X, mereka merilis pesan terpadu yang menyatakan bahwa kategorisasi Barat mengenai kelompok “radikal” atau “moderat” di Iran adalah sebuah kekeliruan fundamental.
“Kami semua adalah ‘Iran’ dan ‘revolusioner’. Dengan persatuan kokoh antara rakyat dan pemerintah, serta ketaatan penuh kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi, kami akan membuat pelaku agresi kriminal menyesali perbuatannya,” bunyi pernyataan bersama tersebut.
Diplomasi “Satu Tangan” di Bawah Satu Bendera
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, turut memperkuat narasi persatuan tersebut dengan menyebut Iran sebagai “benteng yang tak terbagi”. Ia mengakui adanya dinamika politik di dalam negeri, namun menolak jika hal tersebut dianggap sebagai kelemahan atau perpecahan.
- Keberagaman sebagai Demokrasi: Aref menjelaskan bahwa perbedaan pendapat dalam politik internal adalah bukti dari proses demokrasi Iran.
- Solidaritas dalam Krisis: Ia menegaskan bahwa dalam kondisi terancam, seluruh faksi politik akan melebur menjadi “satu tangan” demi melindungi tanah air dan martabat bangsa.
- Penghapusan Label Politik: Teheran berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa label-label politik yang disematkan oleh analis Barat tidak berlaku saat kedaulatan negara dipertaruhkan.
Strategi Melawan Perang Informasi
Langkah Iran yang merilis pernyataan serempak ini dinilai sebagai bagian dari strategi kontra-intelijen untuk meredam potensi agitasi di tingkat akar rumput. Dengan menyatukan suara antara pemerintah, parlemen, dan militer, Iran berupaya membuktikan bahwa suksesi atau perubahan kepemimpinan pasca-konflik tidak menciptakan kekosongan kekuasaan atau anarki seperti yang dispekulasikan oleh Gedung Putih.
Hingga berita ini diturunkan, ketegangan retorika antara Washington dan Teheran tetap tinggi, dengan kedua belah pihak saling menggunakan media internasional untuk memenangkan persepsi publik mengenai stabilitas pemerintahan masing-masing.
