Ketegangan antara Republik Islam Iran dengan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki babak baru yang lebih personal dan berbahaya. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran secara resmi mengeluarkan peringatan akan menargetkan kediaman pribadi para pejabat politik serta komandan militer kedua negara tersebut sebagai langkah balasan atas serangan terhadap pemukiman sipil di wilayah Iran.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil menyusul apa yang ia sebut sebagai tindakan terorisme terhadap warga sipil Iran.
Strategi Balasan Terukur
Dalam pernyataan video yang dilansir oleh News18, Zolfaghari menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran telah memetakan lokasi-lokasi strategis yang melibatkan figur kunci lawan.
“Mengingat tindakan jahat dan terorisme musuh-amerika-zionis yang menargetkan rumah-rumah penduduk Iran di berbagai kota, angkatan bersenjata Republik Islam akan menargetkan kediaman para pejabat, komandan, dan politisi mereka di wilayah ini,” tegas Zolfaghari. Langkah ini dinilai para analis sebagai upaya Iran untuk menciptakan efek getar (deterrence) secara langsung kepada para pengambil keputusan di Washington dan Tel Aviv.
Kontradiksi Diplomasi Donald Trump
Ancaman keras dari Teheran ini muncul di tengah narasi kontradiktif dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa kesepakatan damai dengan Iran mungkin segera tercapai dalam waktu dekat. Namun, di saat yang sama, Trump tetap mematangkan rencana pengiriman ribuan personel militer tambahan ke kawasan Teluk.
Fokus operasi militer AS saat ini mencakup dua opsi strategis:
- Pembukaan Selat Hormuz: Mengamankan jalur logistik energi global yang sempat terhambat.
- Operasi Pulau Kharg: Potensi penyerbuan ke fasilitas minyak vital Iran guna melumpuhkan ekonomi negara tersebut.
Peringatan Invasi Darat: “Makanan bagi Hiu”
Menanggapi rencana invasi darat AS, Zolfaghari mengeluarkan peringatan yang sangat tajam mengenai risiko yang akan dihadapi pasukan infanteri Amerika. Dalam pernyataan resmi melalui kantor berita Tasnim, ia menyebut rencana pendudukan pulau-pulau di Teluk Persia sebagai strategi yang tidak realistis dan mematikan.
“Para komandan dan tentara AS pada akhirnya akan menjadi makanan bagi hiu di Teluk Persia jika mereka memaksakan diri masuk ke wilayah kami,” ujar Zolfaghari. Ia menilai posisi pasukan AS di kawasan saat ini sebenarnya sangat rentan, meskipun mereka telah mencoba berlindung di dekat pusat-pusat sipil dan ekonomi negara-negara regional untuk menghindari serangan rudal Iran.
Analisis Kerentanan Pangkalan AS
Pihak militer Iran mengeklaim bahwa banyak pangkalan militer AS di Timur Tengah telah mengalami kerusakan serius akibat serangan udara sebelumnya, sehingga memaksa pasukan mereka untuk mundur ke titik-titik yang lebih terlindungi. Namun, Teheran menegaskan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi personel militer AS jika perang terbuka benar-benar pecah.
Situasi pada akhir Maret 2026 ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat retorika mengenai “kesepakatan damai”, realitas di lapangan justru menunjukkan persiapan untuk konfrontasi fisik yang lebih destruktif, di mana target serangan kini telah bergeser dari instalasi militer ke individu-individu pembuat kebijakan.
