Pemerintah China secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap operasi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel di wilayah Iran. Beijing mengidentifikasi agresi tersebut sebagai pemicu utama (biang keladi) terjadinya blokade di Selat Hormuz, yang kini melumpuhkan jalur distribusi energi global.
Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, sebagai respons atas desakan Presiden Donald Trump agar negara-negara importir minyak mengamankan sendiri jalur perairan vital tersebut.
Akar Masalah Menurut Perspektif Beijing
Dalam konferensi pers pada Kamis, 2 April 2026, Mao Ning menegaskan bahwa gangguan navigasi internasional di Selat Hormuz bukan merupakan insiden yang berdiri sendiri, melainkan dampak sistemik dari kebijakan militer Washington dan Tel Aviv.
“Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” ujar Mao Ning sebagaimana dilansir oleh AFP. China menilai bahwa tindakan Teheran menutup jalur tersebut merupakan bentuk defensif atas serangan yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
Kontradiksi Retorika Donald Trump
Di sisi lain, Presiden Donald Trump terus mendorong narasi agar negara-negara penerima pasokan minyak “mengambil, melindungi, dan menggunakan” Selat Hormuz untuk kepentingan mereka sendiri. Langkah ini dipandang para analis sebagai upaya AS untuk melepaskan tanggung jawab keamanan maritim internasional di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik domestik terhadap penanganan perang.
Meskipun Trump mengklaim konflik akan berakhir dalam waktu singkat, ia justru mengancam akan meningkatkan intensitas serangan dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ancaman tersebut meliputi:
- Target Infrastruktur: Penghancuran pembangkit listrik nasional Iran.
- Strategi Kelumpuhan: Ambisi untuk membawa Iran kembali ke kondisi “Zaman Batu” jika kesepakatan tidak tercapai.
Menanggapi hal ini, China memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer secara masif tidak akan menyelesaikan akar permasalahan. “Eskalasi konflik tidak sesuai dengan kepentingan pihak mana pun,” tegas Mao Ning.
Dampak Ekonomi bagi China dan Pasar Global
Posisi keras China tidak lepas dari kepentingan ekonomi nasionalnya. Sebagai importir utama minyak mentah dari Iran, Beijing sangat bergantung pada stabilitas arus logistik di Selat Hormuz. Kelumpuhan jalur ini telah memicu guncangan hebat pada pasar energi dunia:
- Lonjakan Harga: Harga minyak dunia dilaporkan melonjak antara 40 hingga 50 persen sejak pecahnya konflik.
- Ambang Batas Psikologis: Harga minyak mentah jenis Brent telah menembus angka 100 dolar AS per barel, menciptakan tekanan inflasi di berbagai negara konsumen.
Posisi Strategis China dalam Konflik
Beijing tetap konsisten mendorong jalur perundingan dan mendesak penghentian segera tindakan militer sepihak. Bagi China, stabilitas di Timur Tengah adalah kunci bagi kelancaran inisiatif perdagangan global. Kritik “blak-blakan” ini menandakan bahwa China siap mengambil posisi berseberangan dengan AS dalam forum internasional guna melindungi kepentingan energi dan stabilitas ekonomi kawasan dari dampak perang tahun 2026 ini.
